SEMARANG (28/04/2026) – Sebagai wujud nyata kepedulian terhadap kelompok rentan, PMI Kota Semarang menyelenggarakan Workshop Pendampingan Aman & Inklusif bagi Anak Berkebutuhan Khusus dalam Situasi Darurat.
Kegiatan yang dilaksanakan di Aula Kampus Polbitrada, Tembalang, Kota Semarang ini merupakan bagian integral dari gerakan kemanusiaan Sound For Humanity 2026 dengan tema Humanity for Elderly and People with Disabilities. Program ini dirancang khusus untuk memberikan perlindungan ekstra bagi mereka yang sering kali terabaikan dalam sistem kesiapsiagaan bencana konvensional.
Acara dibuka secara resmi oleh dr. Raden Panji Uva Utomo, M.H., Sp.KF, selaku Pengurus PMI Kota Semarang Ketua Bidang Pelayanan Kesehatan dan Sosial. Workshop ini diikuti oleh 32 peserta yang terdiri dari orang tua anak berkebutuhan khusus, guru Sekolah Luar Biasa (SLB) atau sekolah inklusi, serta para pendamping (caregiver) dari berbagai komunitas difabel di Kota Semarang.
Tahun ini, PMI Kota Semarang melalui tema Humanity For Elderly and People With Disabilities memberikan perhatian khusus kepada lansia dan penyandang disabilitas. Kelompok ini dinilai masih sering menghadapi keterbatasan akses, terutama dalam aspek pemenuhan kebutuhan dasar dan keselamatan saat terjadi kondisi darurat.
Rangkaian workshop dirancang secara intensif menggunakan metode partisipatif yang menggabungkan ceramah interaktif, demonstrasi teknis, hingga simulasi praktik langsung. Para peserta tidak hanya duduk mendengar, tetapi juga dipaksa untuk mempraktikkan secara langsung prosedur pendampingan yang aman.
Adapun materi inti yang menjadi fokus dalam pelatihan ini meliputi:
-
Pengenalan Karakteristik Anak Berkebutuhan Khusus: Peserta diajak untuk memahami secara mendalam kebutuhan khusus anak dalam berbagai kondisi fisik dan sensorik agar dapat memberikan respon yang tepat.
-
Pertolongan Pertama Dasar: Memberikan teknik penanganan medis awal yang telah dimodifikasi agar sesuai dengan kondisi fisik dan sensitivitas Anak Berkebutuhan Khusus.
-
Evakuasi Aman & Inklusif: Mempelajari prosedur pemindahan korban secara bermartabat tanpa memperparah kondisi cedera, terutama bagi penyandang disabilitas fisik.
-
Dukungan Psikososial: Teknik memberikan ketenangan mental dasar bagi anak-anak agar tidak mengalami trauma mendalam selama dan setelah situasi krisis.
Meski waktu pelaksanaan workshop tergolong terbatas, antusiasme peserta terlihat sangat tinggi. Hal ini tampak pada sesi roleplay dan praktik simulasi, di mana para orang tua dan guru saling bertukar peran untuk memahami perspektif anak saat berada dalam tekanan kondisi darurat.
Melalui workshop ini, PMI Kota Semarang berharap dapat membangun jaringan pendamping yang tangguh dan terampil. Ke depan, gerakan Sound for Humanity akan terus didorong untuk menciptakan lingkungan kota yang lebih aman dan ramah bagi penyandang disabilitas, memastikan bahwa setiap nyawa memiliki peluang keselamatan yang sama dalam kondisi apa pun.
